Kamis, 17 September 2015

EXOU Love Story - Destiny (Xiumin Ver.)

Title: Destiny
Genre: Romance, Sad
Author : Park Mitha
Lengh: Oneshoot
Rating: All
Cast: =>
IU – Lee Jieun
Xiumin – Kim Minseok
Etc

***

Sepasang kekasih sedang asiknya bermain dengan seekor anjing kecil berwarna putih bersih itu, “Oppa matanya mirip denganmu” yeoja itu terkekeh karna sukses membuat kekasihnya memanyunkan bibirnya, karna gemas yeoja itupun mencubit pipi namja itu

“Jieun-ah sakit” pekik namja itu

“Hahaha habisnya kenapa kau begitu imut oppa” yeoja itu tertawa dan menunjukkan eyes smilenya, namja itu hanya tersenyum menatapi wajah bahagia yeojachingunya

“Kenapa melihatku seperti itu?” yeoja bernama Jieun itu tiba tiba berubah ekspresi

“Tidak” jawab namja itu cepat, iapun melihat kedepan lalu menghela nafas berat, “Hidup ini beraneka rasa ya...” gumamnya

“Maksudmu apa? Kau fikir permen beraneka rasa”


“Bagiku, hidup bersamamu bagaikan berada ditaman yang penuh dengan bunga, tapi sebaliknya jika kau tidak disampingku aku bagaikan berada digurun pasir” jelas Minseok yang sukses membuat Jieun tersipu

“Kau gombal oppa” ucap Jieun memukul lengan Minseok manja, Minseokpun tertawa lagi, “Oppa ayo pulang, hari mulai sore” Jieunpun menggandeng tangan Minseok mesra

***

“Untuk apa kau bawa yeoja itu kesini lagi? Sudah kubilang jangan pernah berhubungan dengannya, dia bukan levelmu, dia hanya akan menyusahkanmu nantinya” Minseok menatap penuh amarah kearah lelaki tua yang ada didepannya sedangkan Jieun yang berada tidak jauh dibelakang Minseok hanya bisa terdiam mematung

“Tidak akan ada yang bisa memisahkan aku dan Jieun sekalipun itu kau!!” Minseok sedikit membentak lelaki tua itu sedangkan istrinya yang berada tidak jauh dari suaminya hanya menatap khawatir pada kedua orang yang ia sayangi

“Dasar anak tidak tahu diri”

PLAK!!

Sebuah tamparan mendarat dipipi mulus seorang Kim Minseok

“Yeobo” Ny. Kim akhirnya melerai pertengkaran kedua orang yang ia sayangi itu

“Kau... bukan ayahku!!” ucap Minseok penuh dengan penekanan lalu ia menarik paksa tangan Jieun membawa pergi yeoja yang sangat ia sayangi itu

“Oppa...” ucap Jieun terpotong karna Minseok lebih dulu menyelanya

“Apa? Kau ingin membenarkan perkataan lelaki tua itu?” tanya Minseok penuh dengan amarah, “Jangan sekali kali kau membelanya” lanjut Minseok

“Tapi oppa...” ucap Jieun mencoba membenarkannya

“Berhenti menyalahkan dirimu!! Dia tidak tahu apa apa tentang hubungan kita” tiba tiba nada bicara Minseok naik tinggi dan membuat kedua mata Jieun berkaca kaca

Merasa perubahan ekspresi Jieun Minseokpun menghela nafas sabar, “Maaf aku terbawa emosi” ucap Minseok lembut lalu membawa Jieun pergi dari rumahnya

Mereka memutuskan untuk pergi ketaman tempat dimana mereka sering menghabiskan setiap tawa tangis mereka bersama, taman yang mempertemukan mereka

“Maaf...” ucap Minseok akhirnya

“Tidak, kau tidak bersalah” ucap Jieun lalu tersenyum, “Aku baik baik saja” lanjutnya

“Terimakasih” Minseokpun memeluk Jieun, pelukan yang damai dan menenangkan walau terkadang itu membuat Minseok sakit, terlalu mencintai Jieun membuatnya takut kehilangan sosok yang sudah satu tahun ini berada disampingnya

***

Jieun menghela nafas sabar saat melihat hasil cek-up miliknya, semakin hari keadaannya semakin memburuk, kanker yang bersarang diotaknya semakin hari membuatnya semakin sulit untuk menjalani hidup, terlebih sekedar tersenyum pada Minseok, ia takut jika namja itu berada dipelukkan yeoja lain, ini memang egois tapi inilah kenyataan, kenyataan terkadang tidak sejalan dengan keinginan

“Kau baik baik saja?” tanya Minseok yang melihat wajah sedih kekasihnya itu

“Eoh” jawab Jieun buyar, tiba tiba kepalanya pusing, tapi ia terus saja mentupinya dari Minseok ‘biar waktu yang memberitahu’ itulah fikiran Jieun

“Ayo kita makan dulu wajahmu pucat sekali” Jieun hanya menurut dengan semua perintah yang Minseok ajukan padanya, hanya ini yang bisa ia lakukan disisa hidupnya, hanya untuk Minseok

Selesai makan Minseok mengajak Jieun untuk pergi kesuatu tempat, tempat yang sudah sangat lama Minseok siapkan untuk Jieun, yaitu taman yang penuh dengan berbagai macam bunga, Minseok tahu kalau Jieun sangat suka dengan bunga

“Oppa...” Jieun terkejut dengan keadaan taman yang berwarna warni itu, “Ini kau semua yang menyiapkannya?” lanjutnya, Minseok hanya tersenyum menjawabnya

“Oppa terimakasih” Jieunpun memeluk Minseok dengan perasaan yang sangat bahagia

“Sekarang taman ini adalah milik kita, seperti kataku hidup bersamamu bagaikan berada ditaman yang penuh dengan bunga, seperti disini” jelas Minseok penuh dengan kelembutan

“Oppa...” Jieun begitu senang sampai tidak bisa berkata kata lagi

***

Setiap hari Jieun datang ketempat itu untuk menyirami bunga bunga yang indah itu dengan penuh cinta, dan selalu saja Minseok datang mengganggu setiap Jieun mencoba untuk memotong daun daun yang sudah layu sehingga Jieun salah potong

“Oppa jangan ganggu aku” protes Jieun

“Kau ini sayang sekali dengan tumbuhan disini tapi aku tidak kau sayangi” Minseok cemburu terhadap tumbuhan yang ia berikan pada Jieun

“Oppa... dengan menjaga tumbuhan disini sama saja seperti aku menjaga cinta kita agar tidak habis dimakan waktu” jelas Jieun

“Benarkah?”

“Ya” Jieun memeluk Minseok menunjukkan kalau ia serius dengan ucapannya, “Oh iya tadi aku bawa makanan bagaimana kalau kita makan bersama?” Minseok mengangguk mantap, ia sangat suka dengan masakan Jieun

Minseokpun merangkul Jieun membawanya menuju rumah kecil yang ada ditengah tengah taman bunga itu, sangat manis dan indah

“Aku sudah menemukan tempat mereka” tidak jauh dari lokasi taman Minseok dan Jieun terlihat seorang lelaki misterius dengan kacamata hitamnya yang menatap horor kearah rumah kecil Minseok dan Jieun

“Baiklah” lelaki misterius itupun menyimpan kembali ponselnya lalu pergi dari tempat itu, sambil sesekali melihat sekitar takut ada yang melihatnya

***

Seperti kemarin kemarinnya, Jieun dan Minseok selalu menghabiskan hari mereka untuk berduaan ditaman yang mereka dambakan itu, kali ini Minseok hanya melihat Jieun yang dengan bahagianya menyirami bunga bunga yang bermekaran itu

Sesekali ia memetiknya dan menyerahkannya pada Minseok dari jarak jauh dan Minseok hanya tersenyum membalasnya, namja itupun masuk kedalam rumah kecil itu untuk mengambil kameranya. Ia ingin mengabadikan moment manis itu bersama Jieun

Saat keluar dari pintu itu senyum Minseok pudar karna ia melihat Jieun sudah terbaring ditanah sedangkan bunga yang tadinya Jieun genggam berhambur begitu saja, kamera yang ada ditangannya ia jatuhkan begitu saja hingga berhambur tak beraturan
.
.
.
“Keadaannya semakin memburuk, aku sarankan kau lebih mempehatikan kesehatannya, jangan sampai dia selelah ini” jelas dokter bernama lengkap Kim Joonmyeon

“Iya terimakasih dokter” Minseokpun keluar dari ruangan dokter Kim lalu menemui Jieun diruang rawatnya

“Oppa” lirih Jieun, Minseokpun berjalan mendekat dan duduk dikursi yang ada disisi tempat Jieun terbaring

“Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Minseok penuh dengan kelembutan namun Jieun masih bisa menemukan nada kekecewaaan dari bicaranya, Jieun merasa bersalah dan memeluk Minseok

“Maaf oppa, aku... aku takut kau berubah” tangis Jieun tak bisa ditahan lagi

“Aku tidak akan berubah” ucap Minseok, “Berjanjilah padaku kalau kau akan selalu disampingku” lanjutnya

“Ya oppa, aku berjanji aku akan selalu disampingmu, apapun yang terjadi aku akan selalu ada untukmu, Minseok oppa saranghae...” ucap Jieun begitu lembut

“Na ddo saranghae Jieunnie...” lirih Minseok

***

Ini seperti rutinitas baru mereka, Jieun dan Minseok selalu menghabiskan waktu mereka ditaman ini, bercanda tawa seakan inilah surga mereka, jika berada disini masalah yang menumpuk hilang begitu saja dari fikiran mereka

“Aku ambil penyiram tanaman dulu ne” Minseok pergi kesisi belakang rumah itu untuk mengambil benda yang ia maksud sedangkan Jieun hanya mengangguk

Sambil menunggu Minseok kembali Jieun pergi melihat lihat bunga yang sedang bermekaran itu, sangat indah, tapi senyumnya pudar saat ia melihat beberapa orang lelaki datang memasuki kawasan taman, “Anda siapa?” tanya Jieun pada beberapa orang berkacamata hitam itu

Salah satunya membuka kacamatanya dan, dia... dia adalah ayah Minseok, Jieunpun memberi salam dengan membungkuk dan sangat sopan

“Tidak usah berlaga manis didepanku” jawab Tn. Kim

“Apa anda mencari Minseok oppa, sebentar aku akan memanggilnya” ucap Jieun yang bersiap siap pergi menyusul Minseok, tapi...

“Aku bukan mencari Minseok, tapi aku mencarimu” saat Jieun membalikkan badannya sebuah pistol sudah tertodong kearahnya dan penodongnya adalah Tn. Kim, Jieun tidak bisa berbuat apa apa lagi

“Karna kau sudah membuat Minseok menjadi anak kurang ajar kau harus merasakan ini” ucap Tn. Kim, tepat saat Minseok kembali, iapun seketika menjatuhnya penyiram tanaman itu dan berlari kearah Jieun, dan...

DOORRR!!!!!.... (suara pistol ditembakkan)

Sebuah peluru tepat mengenai jantung Minseok, semua yang ada disana benar benar terkejut, bahkan Tn. Kim sendiri langsung menjatuhnya pistolnya dan berlari kearah Minseok anak sematawayangnya

Minseok-ah bangun...” ucap Tn.Kim penuh dengan nada penyesalan, Jieun yang melihatnyapun jatuh terduduk tepat disamping Minseok, airmatanya jatuh tanpa ia suruh
.
.
.
Semua orang begitu mengkhawatirkan keadaan Minseok yang ada didalam ruang operasi, Tn. Kim benar benar menyesal dengan semuanya, ia tidak menyangka kalau Minseok akan berbuat nekad, ia baru sadar kalau anaknya sangat mencintai Jieun sosok yang sangat ia benci karna dulu orangtuanya pernah memenangkan persaingan antara perusahaannya dan perusahaan Lee, dan itu membuat Tn. Kim benci hingga ia membenci anak itu

Dokter keluar dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan “Dokter bagaimana keadaannya?” tanya Tn. Kim cepat, ia benar benar penasaran

“Pasien dalam keadaan sekarat, dan dia membutuhkan jantung baru, tapi tidak mudah mencari orang yang ingin mendonorkan jantungnya” ucap dokter, seketika Tn. Kim bertekuk lutut menyesali keegoisannya, sedangkan Ny. Kim hanya bisa menangis dan menangis

Jieun maju mendekati dokter, “Aku bersedia mendonorkan jantungku untuknya” ucap Jieun mantap, sontak Tn. Kim dan Ny. Kim menengok kearahnya

“Jieun-ah kau yakin dengan ucapanmu?” tanya Ny. Kim tidak yakin

“Aku yakin”

“Baiklah operasi harus cepat dilakukan” ucap dokter

“Jieun-ah terimakasih” ucap Tn. Kim

“Iya” jawab Jieun mencoba tersenyum

***
Operasipun dimulai, sebelum ia memejamkan matanya Jieun sempat melihat kearah Minseok yang sudah sangat pucat, ‘aku akan selalu bersamamu oppa’ batin Jieun, ia tersenyum walau airmatanya terus mengalir hingga iapun memejamkan matanya...

Beberapa jam kemudian...

Dokter keluar dari ruang operasi dengan ekspresi sedihnya, “Dokter bagaimana?” tanya Ny. Kim begitu khawatir

“Operasi sebenarnya berjalan lancar, tapi setelah pendonor menghembuskan nafas terakhirnya, pasien juga ikut beberapa menit kemudian” jelas dokter, “Maaf kami sudah melakukan yang terbaik” ucap dokter lagi

“Minseok-ah...” lirih Tn.Kim, iapun memeluk istrinya, “Jieun sudah melakukan yang terbaik, mereka memang diciptakan untuk selalu bersama” lanjut Tn. Kim, Ny. Kim semakin menangis

Suasana disebuah pemakaman, bukan sebuah tapi dua pemakaman, disisi kiri terdapat makam namja dan disisi kanan terdapat makam yeoja, pihak keluargapun menangisi kepergian mereka

“Oppa... apa kita ada ditaman yang kau buat itu?” tanya seorang yeoja yang begitu bercahaya dengan pakaian serba putihnya

“Tidak, kita sekarang berada ditaman impian kita, taman surga” jawab namja itu yang memiliki penampilan sama seperti yang yeoja dengan cahaya diseluruh tubuhnya

“Apa kita akan selamanya disini?”

“Nde, terimakasih kau sudah berjanji selalu bersamaku” Minseokpun memeluk Jieun, dan tubuh mereka hilang begitu saja bersama dengan cahaya yang semakin terang...

FIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar