Title: Destiny
Genre: Romance,
Sad
Author : Park Mitha
Author : Park Mitha
Lengh: Oneshoot
Rating:
All
Cast:
=>
IU –
Lee Jieun
Xiumin
– Kim Minseok
Etc
***
Sepasang
kekasih sedang asiknya bermain dengan seekor anjing kecil berwarna putih bersih
itu, “Oppa matanya mirip denganmu” yeoja itu terkekeh karna sukses membuat
kekasihnya memanyunkan bibirnya, karna gemas yeoja itupun mencubit pipi namja
itu
“Jieun-ah
sakit” pekik namja itu
“Hahaha
habisnya kenapa kau begitu imut oppa” yeoja itu tertawa dan menunjukkan eyes
smilenya, namja itu hanya tersenyum menatapi wajah bahagia yeojachingunya
“Kenapa
melihatku seperti itu?” yeoja bernama Jieun itu tiba tiba berubah ekspresi
“Tidak”
jawab namja itu cepat, iapun melihat kedepan lalu menghela nafas berat, “Hidup
ini beraneka rasa ya...” gumamnya
“Maksudmu
apa? Kau fikir permen beraneka rasa”
“Bagiku,
hidup bersamamu bagaikan berada ditaman yang penuh dengan bunga, tapi sebaliknya
jika kau tidak disampingku aku bagaikan berada digurun pasir” jelas Minseok
yang sukses membuat Jieun tersipu
“Kau
gombal oppa” ucap Jieun memukul lengan Minseok manja, Minseokpun tertawa lagi,
“Oppa ayo pulang, hari mulai sore” Jieunpun menggandeng tangan Minseok mesra
***
“Untuk
apa kau bawa yeoja itu kesini lagi? Sudah kubilang jangan pernah berhubungan
dengannya, dia bukan levelmu, dia hanya akan menyusahkanmu nantinya” Minseok
menatap penuh amarah kearah lelaki tua yang ada didepannya sedangkan Jieun yang
berada tidak jauh dibelakang Minseok hanya bisa terdiam mematung
“Tidak
akan ada yang bisa memisahkan aku dan Jieun sekalipun itu kau!!” Minseok
sedikit membentak lelaki tua itu sedangkan istrinya yang berada tidak jauh dari
suaminya hanya menatap khawatir pada kedua orang yang ia sayangi
“Dasar
anak tidak tahu diri”
PLAK!!
Sebuah
tamparan mendarat dipipi mulus seorang Kim Minseok
“Yeobo”
Ny. Kim akhirnya melerai pertengkaran kedua orang yang ia sayangi itu
“Kau...
bukan ayahku!!” ucap Minseok penuh dengan penekanan lalu ia menarik paksa
tangan Jieun membawa pergi yeoja yang sangat ia sayangi itu
“Oppa...”
ucap Jieun terpotong karna Minseok lebih dulu menyelanya
“Apa?
Kau ingin membenarkan perkataan lelaki tua itu?” tanya Minseok penuh dengan
amarah, “Jangan sekali kali kau membelanya” lanjut Minseok
“Tapi
oppa...” ucap Jieun mencoba membenarkannya
“Berhenti
menyalahkan dirimu!! Dia tidak tahu apa apa tentang hubungan kita” tiba tiba
nada bicara Minseok naik tinggi dan membuat kedua mata Jieun berkaca kaca
Merasa
perubahan ekspresi Jieun Minseokpun menghela nafas sabar, “Maaf aku terbawa
emosi” ucap Minseok lembut lalu membawa Jieun pergi dari rumahnya
Mereka
memutuskan untuk pergi ketaman tempat dimana mereka sering menghabiskan setiap
tawa tangis mereka bersama, taman yang mempertemukan mereka
“Maaf...”
ucap Minseok akhirnya
“Tidak,
kau tidak bersalah” ucap Jieun lalu tersenyum, “Aku baik baik saja” lanjutnya
“Terimakasih”
Minseokpun memeluk Jieun, pelukan yang damai dan menenangkan walau terkadang
itu membuat Minseok sakit, terlalu mencintai Jieun membuatnya takut kehilangan
sosok yang sudah satu tahun ini berada disampingnya
***
Jieun
menghela nafas sabar saat melihat hasil cek-up miliknya, semakin hari
keadaannya semakin memburuk, kanker yang bersarang diotaknya semakin hari
membuatnya semakin sulit untuk menjalani hidup, terlebih sekedar tersenyum pada
Minseok, ia takut jika namja itu berada dipelukkan yeoja lain, ini memang egois
tapi inilah kenyataan, kenyataan terkadang tidak sejalan dengan keinginan
“Kau
baik baik saja?” tanya Minseok yang melihat wajah sedih kekasihnya itu
“Eoh”
jawab Jieun buyar, tiba tiba kepalanya pusing, tapi ia terus saja mentupinya
dari Minseok ‘biar waktu yang memberitahu’ itulah fikiran Jieun
“Ayo
kita makan dulu wajahmu pucat sekali” Jieun hanya menurut dengan semua perintah
yang Minseok ajukan padanya, hanya ini yang bisa ia lakukan disisa hidupnya,
hanya untuk Minseok
Selesai
makan Minseok mengajak Jieun untuk pergi kesuatu tempat, tempat yang sudah
sangat lama Minseok siapkan untuk Jieun, yaitu taman yang penuh dengan berbagai
macam bunga, Minseok tahu kalau Jieun sangat suka dengan bunga
“Oppa...”
Jieun terkejut dengan keadaan taman yang berwarna warni itu, “Ini kau semua
yang menyiapkannya?” lanjutnya, Minseok hanya tersenyum menjawabnya
“Oppa
terimakasih” Jieunpun memeluk Minseok dengan perasaan yang sangat bahagia
“Sekarang
taman ini adalah milik kita, seperti kataku hidup bersamamu bagaikan berada
ditaman yang penuh dengan bunga, seperti disini” jelas Minseok penuh dengan
kelembutan
“Oppa...”
Jieun begitu senang sampai tidak bisa berkata kata lagi
***
Setiap
hari Jieun datang ketempat itu untuk menyirami bunga bunga yang indah itu
dengan penuh cinta, dan selalu saja Minseok datang mengganggu setiap Jieun
mencoba untuk memotong daun daun yang sudah layu sehingga Jieun salah potong
“Oppa
jangan ganggu aku” protes Jieun
“Kau
ini sayang sekali dengan tumbuhan disini tapi aku tidak kau sayangi” Minseok
cemburu terhadap tumbuhan yang ia berikan pada Jieun
“Oppa...
dengan menjaga tumbuhan disini sama saja seperti aku menjaga cinta kita agar
tidak habis dimakan waktu” jelas Jieun
“Benarkah?”
“Ya”
Jieun memeluk Minseok menunjukkan kalau ia serius dengan ucapannya, “Oh iya
tadi aku bawa makanan bagaimana kalau kita makan bersama?” Minseok mengangguk
mantap, ia sangat suka dengan masakan Jieun
Minseokpun
merangkul Jieun membawanya menuju rumah kecil yang ada ditengah tengah taman
bunga itu, sangat manis dan indah
“Aku
sudah menemukan tempat mereka” tidak jauh dari lokasi taman Minseok dan Jieun
terlihat seorang lelaki misterius dengan kacamata hitamnya yang menatap horor
kearah rumah kecil Minseok dan Jieun
“Baiklah”
lelaki misterius itupun menyimpan kembali ponselnya lalu pergi dari tempat itu,
sambil sesekali melihat sekitar takut ada yang melihatnya
***
Seperti
kemarin kemarinnya, Jieun dan Minseok selalu menghabiskan hari mereka untuk
berduaan ditaman yang mereka dambakan itu, kali ini Minseok hanya melihat Jieun
yang dengan bahagianya menyirami bunga bunga yang bermekaran itu
Sesekali
ia memetiknya dan menyerahkannya pada Minseok dari jarak jauh dan Minseok hanya
tersenyum membalasnya, namja itupun masuk kedalam rumah kecil itu untuk
mengambil kameranya. Ia ingin mengabadikan moment manis itu bersama Jieun
Saat
keluar dari pintu itu senyum Minseok pudar karna ia melihat Jieun sudah
terbaring ditanah sedangkan bunga yang tadinya Jieun genggam berhambur begitu
saja, kamera yang ada ditangannya ia jatuhkan begitu saja hingga berhambur tak
beraturan
.
.
.
“Keadaannya
semakin memburuk, aku sarankan kau lebih mempehatikan kesehatannya, jangan
sampai dia selelah ini” jelas dokter bernama lengkap Kim Joonmyeon
“Iya
terimakasih dokter” Minseokpun keluar dari ruangan dokter Kim lalu menemui
Jieun diruang rawatnya
“Oppa”
lirih Jieun, Minseokpun berjalan mendekat dan duduk dikursi yang ada disisi
tempat Jieun terbaring
“Kenapa
kau tidak memberitahuku?” tanya Minseok penuh dengan kelembutan namun Jieun
masih bisa menemukan nada kekecewaaan dari bicaranya, Jieun merasa bersalah dan
memeluk Minseok
“Maaf
oppa, aku... aku takut kau berubah” tangis Jieun tak bisa ditahan lagi
“Aku
tidak akan berubah” ucap Minseok, “Berjanjilah padaku kalau kau akan selalu
disampingku” lanjutnya
“Ya
oppa, aku berjanji aku akan selalu disampingmu, apapun yang terjadi aku akan
selalu ada untukmu, Minseok oppa saranghae...” ucap Jieun begitu lembut
“Na ddo
saranghae Jieunnie...” lirih Minseok
***
Ini
seperti rutinitas baru mereka, Jieun dan Minseok selalu menghabiskan waktu
mereka ditaman ini, bercanda tawa seakan inilah surga mereka, jika berada
disini masalah yang menumpuk hilang begitu saja dari fikiran mereka
“Aku
ambil penyiram tanaman dulu ne” Minseok pergi kesisi belakang rumah itu untuk
mengambil benda yang ia maksud sedangkan Jieun hanya mengangguk
Sambil
menunggu Minseok kembali Jieun pergi melihat lihat bunga yang sedang bermekaran
itu, sangat indah, tapi senyumnya pudar saat ia melihat beberapa orang lelaki
datang memasuki kawasan taman, “Anda siapa?” tanya Jieun pada beberapa orang
berkacamata hitam itu
Salah
satunya membuka kacamatanya dan, dia... dia adalah ayah Minseok, Jieunpun
memberi salam dengan membungkuk dan sangat sopan
“Tidak
usah berlaga manis didepanku” jawab Tn. Kim
“Apa
anda mencari Minseok oppa, sebentar aku akan memanggilnya” ucap Jieun yang
bersiap siap pergi menyusul Minseok, tapi...
“Aku
bukan mencari Minseok, tapi aku mencarimu” saat Jieun membalikkan badannya sebuah
pistol sudah tertodong kearahnya dan penodongnya adalah Tn. Kim, Jieun tidak
bisa berbuat apa apa lagi
“Karna
kau sudah membuat Minseok menjadi anak kurang ajar kau harus merasakan ini”
ucap Tn. Kim, tepat saat Minseok kembali, iapun seketika menjatuhnya penyiram
tanaman itu dan berlari kearah Jieun, dan...
DOORRR!!!!!....
(suara pistol ditembakkan)
Sebuah
peluru tepat mengenai jantung Minseok, semua yang ada disana benar benar
terkejut, bahkan Tn. Kim sendiri langsung menjatuhnya pistolnya dan berlari
kearah Minseok anak sematawayangnya
“Minseok-ah bangun...” ucap Tn.Kim
penuh dengan nada penyesalan, Jieun yang melihatnyapun jatuh terduduk tepat
disamping Minseok, airmatanya jatuh tanpa ia suruh
.
.
.
Semua
orang begitu mengkhawatirkan keadaan Minseok yang ada didalam ruang operasi,
Tn. Kim benar benar menyesal dengan semuanya, ia tidak menyangka
kalau Minseok akan berbuat nekad, ia baru sadar kalau anaknya sangat mencintai
Jieun sosok yang sangat ia benci karna dulu orangtuanya pernah memenangkan
persaingan antara perusahaannya dan perusahaan Lee, dan itu membuat Tn. Kim benci hingga ia membenci anak itu
Dokter
keluar dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan “Dokter bagaimana keadaannya?”
tanya Tn. Kim cepat,
ia benar benar penasaran
“Pasien
dalam keadaan sekarat, dan dia membutuhkan jantung baru, tapi tidak mudah mencari
orang yang ingin mendonorkan jantungnya” ucap dokter, seketika Tn. Kim bertekuk lutut menyesali keegoisannya, sedangkan Ny. Kim hanya bisa menangis dan menangis
Jieun
maju mendekati dokter, “Aku bersedia mendonorkan jantungku untuknya” ucap Jieun
mantap, sontak Tn. Kim dan
Ny. Kim menengok kearahnya
“Jieun-ah
kau yakin dengan ucapanmu?” tanya Ny. Kim tidak
yakin
“Aku
yakin”
“Baiklah
operasi harus cepat dilakukan” ucap dokter
“Jieun-ah
terimakasih” ucap Tn. Kim
“Iya”
jawab Jieun mencoba tersenyum
***
Operasipun
dimulai, sebelum ia memejamkan matanya Jieun sempat melihat kearah Minseok yang
sudah sangat pucat, ‘aku akan selalu bersamamu oppa’ batin Jieun, ia tersenyum
walau airmatanya terus mengalir hingga iapun memejamkan matanya...
Beberapa
jam kemudian...
Dokter
keluar dari ruang operasi dengan ekspresi sedihnya, “Dokter bagaimana?” tanya
Ny. Kim begitu khawatir
“Operasi
sebenarnya berjalan lancar, tapi setelah pendonor menghembuskan nafas
terakhirnya, pasien juga ikut beberapa menit kemudian” jelas dokter, “Maaf kami
sudah melakukan yang terbaik” ucap dokter lagi
“Minseok-ah...”
lirih Tn.Kim, iapun memeluk istrinya, “Jieun sudah melakukan yang
terbaik, mereka memang diciptakan untuk selalu bersama” lanjut Tn. Kim, Ny. Kim
semakin menangis
Suasana
disebuah pemakaman, bukan sebuah tapi dua pemakaman, disisi kiri terdapat makam
namja dan disisi kanan terdapat makam yeoja, pihak keluargapun menangisi
kepergian mereka
“Oppa...
apa kita ada ditaman yang kau buat itu?” tanya seorang yeoja yang begitu
bercahaya dengan pakaian serba putihnya
“Tidak,
kita sekarang berada ditaman impian kita, taman surga” jawab namja itu yang
memiliki penampilan sama seperti yang yeoja dengan cahaya diseluruh tubuhnya
“Apa
kita akan selamanya disini?”
“Nde,
terimakasih kau sudah berjanji selalu bersamaku” Minseokpun memeluk Jieun, dan
tubuh mereka hilang begitu saja bersama dengan cahaya yang semakin terang...
FIN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar